"Gak nyontek gak temenan!"
Kalimat di atas adalah jargon yang dipastikan ada ketika musim ujian tiba. Gak nyontek gak temenan, gak ada solidaritasnya, begitulah kata mereka para simpatisan PCM--Partai Contek Mencontek. Para simpatisan PCM ini terdiri dari berbagai golongan, dari tingkat bangku sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Dan sayangnya... para simpatisan PCM ini (mungkin) tak akan bisa punah.
Kemarin gue ngobrol santai bareng temen yang kebetulan adalah temen kerja gue. Setelah ngalur-ngidul tiba-tiba topik contek-mencontek ini masuk ke dalam obrolan. Sampai pada akhirnya mereka yang ternyata adalah simpatisan PCM ini menanyai apakah gue juga bisa disebut sebagai simpatisan atau tidak.
Dulu, semasih SMA, bisa dikatakan gue sebagai simpatisan PCM meskipun hanya untuk mata pelajaran yang bikin gue meringis gak ketulungan sampai guling-guling gak jelas. Tapi saat di bangku kuliah, gue mulai membenahi diri, meskipun gue gak bisa dibilang benar-benar bersih dari kegiatan PCM ini. Gak nyontek gak temenan, terkadang kalimat ini memang terasa berarti banget. Solid banget, deh, kesannya. Mengatasnamakan azas pertemanan, kegiatan ini menjadi terasa halal dan wajib untuk dilakukan.
Namun, setelah berkecimpung di dunia kerja, gue baru sadar kalau hal yang dulu gue anggep remeh ini ternyata punya imbas besar justru ketika para simpatisan telah memasuki dunia kerja, terutama bagi simpatisan yang posisinya selalu "menengadahkan tangan".
Gue bekerja sebagai paramedis, yang mana hal utama yang gue hadapi bukanlah barang mati, melainkan manusia, dengan kata lain... mainan gue saat bekerja adalah nyawa--nyawa ibu dan bayinya. Tanpa bermaksud memarginalkan profesi lain yang tidak berhadapan langsung dengan nyawa orang lain, profesi gue ini bukanlah tentang pekerjaan yang bisa lo tulis, trus lo hapus begitu lo sadar lo nulis hal yang salah, atau lo copy untuk kemudian klik paste, atau bisa berpikir sembari menikmati secangkir kopi. Bahkan, ada saatnya dimana untuk menuntaskan hasrat ke kamar mandi pun gak bisa lo lakuin.
Nah, sekarang coba lo bayangin, kalau orang yang mengemban profesi ini adalah seorang simpatisan PCM yang fanatik kronik dg posisi selalu "menengadahkan tangan"! Wah, sorry to say, banyak nyawa yang mungkin akan "kelar" gak jelas. Gak cuma berimbas terhadap nyawa yang ia tangani, tapi keberadaan simpatisan model beginian DIPASTIKAN juga menjadi beban bagi rekan kerjanya.
Gue PASTIKAN, rasa seru yang lo rasain dulu ketika dengan semangatnya lo ngasi contekan atau nyontek atas nama solidaritas AKAN MUSNAH ketika lo kena masalah di tempat kerja dikarenanakan kesalahan yang dilakaukan orang lain, yang bisa jadi dahulunya adalah seorang simpatisan PCM.
Kalau sudah kejadian begini, yang bisa lo lakuin palingan joget galau sembari niru lagu si Cita Citata, "Sakitnya tuh di sini...," sambil nunjuk kepala lo--kepala yang otaknya dulu gak lo pake buat mikir dengan benar. Dan juga... berdoa, berdoa semoga para simpatisan ini mau belajar untuk menjadi lebih baik dan "mengisi" otak mereka dengan benar. Tentu, hal ini tidak hanya berlaku di dalam lingkungan paramedis, setiap profesi pasti mempunyai ceritanya sendiri ketika bersentuhan dengan para simpatisan/alumni PCM.
Jadi... masih mau, jadi simpatisan PCM?!


0 komentar:
Posting Komentar