Karena Berbagi Tak Pernah Rugi

            Beberapa hari lalu, ketkia gue dan suami sedang kebingungan menentukan pilihan tempat untuk makan—di baca: istri yang awalnya minta makan di tempat A dan dalam hitungan detik minta ke tempat B, proses “diskusi” kami harus terinterupsi oleh seorang pedagang sendal keliling.
            Seharusnya si pedagang ini tidaklah menyita perhatian kami seandainya saja dialog yang terjadi seperti ini:
Pedagang        : “Teh, Aa... mari dibeli sepatunya, harga mash bisa ditawar.”
Gue                 : “Maaf, Mas... kami belum berminat membeli sepatu.”
Dan (seharusnya) si pedagang mengakhiri pertemuan kami yang tidak disengaja itu. Akan tetapi yang terjadi adalah:
Pedagang        :”Ampuuun, Teh... saya mohon!”
Gue dan suami            cuma bengong, kenapa juga ini orang minta maaf?
Pedagang        : “Ampun, Teh... saya minta tolong. Tolong dibeli, untuk harga terserah Teteh saja. Dibantulah saya, mohon sangat, supaya bisalah saya ada ongkos balik ke Bandung, Teh. Gak apalah saya rugi. Sok atuh dibeli, Teh...”
Si pedagang ngomong sembari mengelus-ngelus perut dibarengi mimik muka memelas maksimal. Well, yang begini nih, yang biasanya selalu berhasil bikin gue luluh.
Karena gue dan suami belum juga beranjak dan malah terlihat kebingungan, si pedagang pun melanjutkan aksinya dengan mimik lebih memelas dibarengi adegan menjatuhkan tas ke tanah kemudian diikuti gerak tubuhnya yang terlihat lemas. Ah... gak tahan, deh, gue ngelihat beginian. Akhirnya gue yang balik memelas ke suami sampai akhirnya suami pun mengalah. Kami memutuskan untuk membeli sepasang sendal yang sebenarnya tidak kami butuhkan.
Suami              : “Memangnya berapaan harganya?”
Pedagang        : “Saya biasa jual duaratus limapuluh, A...”
Suami              : “Haaah, mahal amaaat?!” sahutnya kaget sembari melihat ke arah gue.
Kemudian suami cengar-cengir sembari geleng kepala, yang mana tersirat arti, “Ah, gak bener ini...” Suami pun meminta gue untuk membatalkan niat membeli sendal. Akan tetapi si pedagang pun semakin dramatis melancarkan aksinya dan membolehkan gue untuk menawar. Ah, pilihan berat... antara menuruti kata suami, atau menuruti si pedagang yang aduhai pandai betul mendramatisir keadaan.
Akhirnya... suami cuma bisa geleng-geleng melihat gue memegang sepasang sendal seharga limapuluh ribu rupiah. Si pedagang sudah berlalu setelah mengucapkan terima kasih dan kata-kata berbumbu drama lainnya.
Selama menunggu makanan pesanan kami datang, suami pun menjelaskan alasan ia untuk tidak mempercayai si pedagang. Dari harga awal yang menurutnya terlalu tinggi, kemudian alasan si pedagang yang ingin mencari ongkos pulang meskipun harus merugi. Jika memang benar seperti itu, seharusnya ia cukup menggelar lapak di pinggir jalan dan mengobral beberapa sepasang sendal.
Entahlah... apa yang dikatakan suami memang masuk akal, dan semakin masuk akal ketika belum lagi makanan yang kami pesan datang, sudah ada dua pedagang sendal lagi yang mendatangi kami, hanya saja tidak dengan aksi sedramatis rekan mereka sebelumnya. Hingga kami selesai makan, entah berapa pedagang serupa lagi yang mendatangi kami.
Apapun faktanya, gue hanya bermaksud berbagi rezeki. Ini bukan pertama kalinya, ada banyak jenis kejadian oleh orang-orang berbeda yang berhasil menyulut rasa prihatin gue. Kembali lagi, jika memang masih ada rezeki yang bisa dibagi dengan mereka maka berbagilah, toh juga berbagi dengan didasari hati yang tulus gak akan ada ruginya. Dan berdoalah untuk kelancaran rezeki mereka. Toh juga mereka sudah berusaha, tidak hanya menyuarakan “ketidakberdayaan” yang disisipi ancaman seperti yang para preman lakukan di bis kota. Urusan mereka bohong atau tidak, biarlah menjadi urusan mereka dengan Tuhan.





0 komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

Gue adalah...

Gue adalah manusia berjenis kelamin perempuan, yang walaupun dijatahin kulit sawo mateng sama Tuhan, tapi tetep punya senyum yang manis banget (kata nyokap, sih...) Gue belum terlalu aktif ngeblog dikarenakan gue adalah salah satu dari semesta para manusia yang menua di jalan, terjebak dalam rutinitas dan kemacetan Jakarta (alasan klise memang...) Pastinya, menulis adalah cara untuk gue curhat/ngoceh dan bisa disimak sama orang lain. Secara... kalau lo ngoceh pas lagi desek-desekkan di kereta yang ada lo digebukin orang segerbong. So... dengan cara menulis dan di "rumah" inilah gue bisa menyalurkan hobi untuk ngoceh. Itu saja... Selebihnya, yuk kita ngoceh bareng di "rumah" ini. :)