Sumber gambar dari sini.
Bercermin
dari kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), momentum diartikan sebagai besaran
yang berkaitan dengan benda yang besarnya sama dengan hasil kali massa benda
yang bergerak itu dan kecepatan geraknya; kuan-titas gerak.
Well,
pengertian di atas adalah pengertian dari momentum dengan kontekstual fisika.
Ribet, ya, kata-katanya? Kalau lebih dimanusiawikan, maka sederhananya (juga
mengacu dari KBBI) momentum juga bisa diartikan sebagai kesempatan atau saat
yang tepat.
Jujur..
gue adalah salah satu dari semesta manusia yang menderita alergi parah terhadap
Fisika. Buktinya adalah nilai Fisika gue yang gak pernah manusiawi semasa
sekolah dahulu. Maka dari itu gue memutuskan untuk menulis analogi yang lebih
sederhana, sesederhana logika gue yang gak pernah bisa diajak kompromi setiap
kali meet up dengan mata pelajaran
ini.
Jadi
begini...
Suatu
pagi gue harus berpergian ke suatu tempat dengan memanfaatkan salah satu
akomodasi transportasi umum, yaitu kereta api listrik a.k.a Communter Line (CL). Nah, rute
sederhananya adalah gue harus sampai terlebih dahulu di Stasiun Tanah Abang
untuk kemudian transit menuju Stasiun Sudirman. Sebenarnya bukan perkara sulit.
Yang perlu gue lakukan adalah turun dari kereta, move on ke peron sebelah, selanjutnya menunggu kereta dengan rute
yang sesuai. Jelas jauh lebih mudah dibandingkan move on dari mantan pacar, kaaan?!
Namun
yang kemudian menjadi masalah adalah situasi yang tidak mendukung niat gue untuk
mencapai CL selanjutnya. Bukan perkara mudah untuk gue turun dari CL pertama.
Niatnya turun dengan mulus kemudian jalan ala Princess Syahrini sembari ngomong
maju mundur maju mundur cantiiiik...
cantiiiik... cantiiiik. Namun yang terjadi adalah gue kesulitan untuk keluar
dari CL dikarenakan desakan yang terlalu kuat baik dari dalam maupun luar CL.
Nah...
singkat cerita—setelah baju yang awalnya licin jadi kusut, rambut yang awalnya
rapi jadi ngacak gak jelas, dan setelah alis yang awalnya digambar rapi jadi
mencong bahkan putus-putus—berhasillah diri ini keluar dari kereta. Perjalanan
selanjutnya adalah menuju peron sebelah. Sebenarnya jaraknya hanya selemparan
batu dari manusia yang gak niat melempar batu. Akan tetapi overcapacity pengguna jasa CL menyebabkan proses berpindah ini
menjadi begitu sulit. Tau ulet keket, kan? Dan bagimana kalau si ulet keket ini
kembar siam? Seperti itulah kondisi gue di antara pengguna jasa CL
lainnya—sulit untuk membebaskan diri boooo!
Adapun
momentum di sini adalah ketika dari kejauhan gambaran kereta yang sesuai tujuan
selanjutnya telah jatuh di kedua mata. Otomatis otak mengeluarkan perintah yang
ditujukan kepada setiap anggota gerak untuk bekerja semaksimal mungkin. Upaya
demi upaya pun gue lakukan meskipun harus didorong penumpang lain, kaki keinjek
sampai heels copot, atau mungkin ada orang lain yang lebih apes—ditawar om happy atau tante girang yang
memanfaatkan kesempatan ditengah kesempitan.
Demi
sebuah momentum, konsekuensi lebih baik gue anggap sebagai kentut—terpapar
aroma tak sedap dalam jangka waktu semenit-dua menit, untuk kemudian hilang
dengan sendirinya. Yang terpenting adalah tidak tertinggal kereta dan pastikan
juga usaha yang dilakukan tidak melanggar undang-undang. Ingat, niatnya adalah
sampai di peron sebelah tepat waktu, bukan sampai di balik jeruji besi.
Namun
ada kalanya juga ketika sedikit lagi gue sampai tujuan, si CL malah
meninggalkan gue dengan begitu angkuhnya. Ibaratnya setelah bersusah payah move on dari mantan, eh, gebetan malah
ninggalin... kan amsyoooong!
Nah,
cerita di atas adalah analogi sederhana dari hidup yang gue dan banyak orang
jalani. Bertahan hidup secara mandiri itu gak gampang. Apalagi bertahan hidup
secara mandiri dengan cara yang lebih berkualitas dari sebelumnya... ini
sungguh luar biasa sulitnya.
Bekerja
keras di satu bidang dengan hasil yang hanya cukup memenuhi kebutuhn pada tahap
dasar piramida Maslow. Mendapati diri hanya bisa berkata “gini-gini aja” ketika
orang lain mampu berkata “gini-gitu”. Hingga akhirnya terbitlah deklarasi untuk
cross the line, dengan harapan
meningkatkan kualitas hidup.
Sama
halnya dengan proses turun dari CL pertama menuju CL selanjutnya. Memutuskan
untuk cross the line tentu akan
menimbulkan gesekan bahkan benturan dengan hal-hal lainnya. Tak semudah
harapan, tenaga ekstra menjadi salah satu komponen penentu. Namun kedatangan momentum adalah pemacu diri
untuk tetap melanjutkan perjalanan. Semakin besar usaha kita, semakin besar
pula kemungkinan kita sampai pada tujuan tepat
waktu. Yuk, kita cegah setiap pembenaran untuk menjadikan diri kita
terlambat apalagi gagal sampai di tujuan.

0 komentar:
Posting Komentar