Tepat
waktu dan tepat janji adalah dua hal sederhana namun membutuhkan kesadaran diri
secara penuh untuk menjadikan dirimu seseorang yang benar-benar tepat.
Jarak
tempuh antara rumah dan tempat kerja yang jauh, kemacetan yang semakin gila di Ibukota, urusan rumah tangga yang
menumpuk, dan banyak lagi alasan yang terasa benar untuk kita sampaikan ketika
kita jatuh ke dalam keadaan telat.
Beribu
macam alasan dan berjuta pembenaran pun muncul. Semua itu memang tidak akan
menjadi sebuah masalah SELAMA kita menetatpkan standar yang rendah untuk kualitas
diri kita dalam berdisiplin.
Orang
bijak (yang entah siapa namanya) berkata, “Janganlah berjanji ketika kamu sedang
bahagia.” Well, gue setuju. Ketika
kita sedang dalam keadaan happy,
acapakali kita mengumbar janji. Padahal, sesepele apapun, yang namanya janji
tetap harus ditepati.
Contoh
sederhana, gue berjanji ke suami kalau setiap kali gue kentut dengan jenis silent killer gue harus keluar dari
kamar tidur. Janji yang sangat sederhana bukan? Nah, coba bayangin lo lagi
ngantuk-ngantuknya, terus tiba-tiba keluarlah gas beracun itu tanpa suara sedikitpun.
Masih yakin lo bisa nepatin janji?
Terserah individunya, sih, mau nepatin janji atau gak, dan terserah juga mau jadi orang tepat
waktu atau tukang telat. Yang pasti, kedua hal sederhana itu juga akan
menentukan penilaian orang lain terhadap kualitas diri lo. Menepati hal sederhana
saja tidak bisa, lalu apakah seseorang seperti ini bisa dipercaya untuk
bertanggung jawab akan hal yang lebih besar?!

0 komentar:
Posting Komentar