Secuplik Cinta yang Sederhana



“Bapak tetap mau rawat dia, siapa tau setelah besar nanti dia bisa pinter seperti kamu....”
Kalimat tersebut Bapak ucapkan sembari tersenyum—senyuman penuh harap meskipun lelah tergambar jelas di wajahnya.
Tak jelas berapa usia Bapak sebenarnya. Setiap kali gue menanyakan tahun kelahirannya, Bapak selalu bilang, “Kira-kira dua sampe tiga tahun sebelum merdeka.” Ya... usia Bapak sudah sampai pada angka tujuhpuluhan, usia yang seharusnya ia jalani dengan hanya menikmati masa tuanya.
Namun Bapak dan Meme (Ibu) harus membesarkan salah satu keponakan gue yang kini usianya memasuki tahun kedua. Karena kakak gue mengalami kegagalan berumah tangga dan untuk sementara ini belum bisa menetap di Bali, dan karena alasan tertentu pula ia menetapkan pilihan untuk anaknya bertumbuh-kembang di Bali, maka Bapak dan Meme lah yang pada akhirnya turun tangan.
Bukan perkara mudah bagi Bapak dan Meme untuk mengurus Keikei—keponakan kecilku itu. Down Syndrome yang diderita Keikei menjadikan segalanya tak semudah harapan. Bukan hal lucu lagi ketika Bapak juga Meme yang mulai sakit-sakitan harus mengurus Keikei yang kerapkali jatuh sakit, terlepas dari Down Syndrome yang menjangkitinya.
Down Syndrome bukanlah perkara mudah untuk dipahami seorang laki-laki tua, yang mana hal-hal yang mampu ia pahami dengan baik (mungkin) sebatas bagaimana membesarkan anak-anaknya dengan baik menurut cara yang ia tahu dan bisa ia lakukan, menjadi buruh tani sesuai musim, atau menjadi buruh bangunan, serta memahami hidup dari kacamatanya. Menjelaskan perihal Down Syndrome kepada Bapak tentu akan jauh lebih sulit dibandingkan menjelaskan proses yang harus dilalui bibit kopi hingga menjadi secangkir kopi. 
Mengutip kata-kata dari sebuah film berjudul I Am Sam (2001)—cerita tentang seorang laki-laki penderita kelainan mental yang ingin membesarkan anaknya,  yang dibintangi oleh Sean Penn, “Kemampuan seseorang untuk mencintai tidak tergantung dari tingkat intelektulnya,” maka tak diragukan lagi kalau Bapak akan membesarkan Keikei dengan cinta yang sama seperti yang Bapak berikan ke gue.
Dan dengan kepercayaan penuh akan kasih Tuhan, maka kalimat Bapak tersebut akan selalu gue amini..., Bapak tetap mau rawat dia, siapa tau setelah besar nanti dia bisa pinter seperti kamu...”

Ya... bagi Bapak, gue adalah anak pintar, bukan karena apa yang dia yakinkan benar adanya, akan tetapi karena hal yang sama juga pasti diyakinkan oleh setiap ayah terhadap anaknya. Dan bagi Bapak, Down Syndrome bukanlah sebuah pengecualian, karena mencintai pada dasarnya adalah hal yang sederhana ketika ketulusan berjalan menyertai. 
Ah... semoga Tuhan memberikan Bapak dan Meme kesehatan serta umur panjang untuk menyaksikan Keikei tumbuh dewasa. Svaha...

0 komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

Gue adalah...

Gue adalah manusia berjenis kelamin perempuan, yang walaupun dijatahin kulit sawo mateng sama Tuhan, tapi tetep punya senyum yang manis banget (kata nyokap, sih...) Gue belum terlalu aktif ngeblog dikarenakan gue adalah salah satu dari semesta para manusia yang menua di jalan, terjebak dalam rutinitas dan kemacetan Jakarta (alasan klise memang...) Pastinya, menulis adalah cara untuk gue curhat/ngoceh dan bisa disimak sama orang lain. Secara... kalau lo ngoceh pas lagi desek-desekkan di kereta yang ada lo digebukin orang segerbong. So... dengan cara menulis dan di "rumah" inilah gue bisa menyalurkan hobi untuk ngoceh. Itu saja... Selebihnya, yuk kita ngoceh bareng di "rumah" ini. :)