“Bapak
tetap mau rawat dia, siapa tau setelah besar nanti dia bisa pinter seperti
kamu....”
Kalimat
tersebut Bapak ucapkan sembari tersenyum—senyuman penuh harap meskipun lelah
tergambar jelas di wajahnya.
Namun
Bapak dan Meme (Ibu) harus membesarkan salah satu keponakan gue yang kini
usianya memasuki tahun kedua. Karena kakak gue mengalami kegagalan berumah
tangga dan untuk sementara ini belum bisa menetap di Bali, dan karena alasan
tertentu pula ia menetapkan pilihan untuk anaknya bertumbuh-kembang di Bali,
maka Bapak dan Meme lah yang pada akhirnya turun tangan.
Bukan
perkara mudah bagi Bapak dan Meme untuk mengurus Keikei—keponakan kecilku itu. Down Syndrome yang diderita Keikei menjadikan segalanya tak semudah
harapan. Bukan hal lucu lagi ketika Bapak juga Meme yang mulai sakit-sakitan
harus mengurus Keikei yang kerapkali jatuh sakit, terlepas dari Down Syndrome yang menjangkitinya.
Down Syndrome
bukanlah perkara mudah untuk dipahami seorang laki-laki tua, yang mana hal-hal
yang mampu ia pahami dengan baik (mungkin) sebatas bagaimana membesarkan anak-anaknya
dengan baik menurut cara yang ia tahu dan bisa ia lakukan, menjadi buruh tani
sesuai musim, atau menjadi buruh bangunan, serta memahami hidup dari kacamatanya. Menjelaskan perihal Down Syndrome kepada Bapak tentu akan
jauh lebih sulit dibandingkan menjelaskan proses yang harus dilalui bibit kopi hingga menjadi secangkir kopi.
Mengutip
kata-kata dari sebuah film berjudul I Am Sam (2001)—cerita tentang seorang
laki-laki penderita kelainan mental yang ingin membesarkan anaknya, yang dibintangi oleh Sean Penn, “Kemampuan
seseorang untuk mencintai tidak tergantung dari tingkat intelektulnya,”
maka tak diragukan lagi kalau Bapak akan membesarkan Keikei dengan cinta yang
sama seperti yang Bapak berikan ke gue.
Dan
dengan kepercayaan penuh akan kasih Tuhan, maka kalimat Bapak tersebut akan selalu
gue amini..., “Bapak tetap mau rawat dia, siapa tau setelah besar nanti dia bisa
pinter seperti kamu...”
Ya... bagi
Bapak, gue adalah anak pintar, bukan karena apa yang dia yakinkan benar adanya,
akan tetapi karena hal yang sama juga pasti diyakinkan oleh setiap ayah
terhadap anaknya. Dan bagi Bapak, Down
Syndrome bukanlah sebuah pengecualian, karena mencintai pada dasarnya adalah hal yang sederhana ketika ketulusan berjalan menyertai.
Ah... semoga Tuhan memberikan Bapak dan
Meme kesehatan serta umur panjang untuk menyaksikan Keikei tumbuh dewasa.
Svaha...


0 komentar:
Posting Komentar